“The Lost World” di Selatan Kota Jogja (1)

Safari kali ini saya lakukan pada 2009 lalu. Budi, kawan saya, mengajak untuk jalan-jalan ke suatu tempat yang ia sebut ‘The Lost World’. “The Lost World? Maksude (maksudnya)?”, saya belum paham maksudnya. “Uwis, melu wae… Kapan, yo?(Udah, ikut aja. Kapan, yuk?)“.

Dengan dua sepeda motor; akhirnya pada hari yang disepakati saya, Budi dan seorang kawan lagi, Prima, pergi ke ‘The Lost World’ itu. Sebelumnya Budi sempat bilang kalau ‘The Lost World’ itu di daerah Imogiri, daerah selatan Kota Yogyakarta. Mendengar kata “Imogiri”, pikiran saya langsung tertuju pada makam para raja-raja Jawa yang terletak di atas bukit di Imogiri. Orang-orang Jogja juga pasti tahu kalau makam raja-raja Jawa ada di Imogiri. Termasuk almarhum raja Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, Sri Sultan Hamengkubuwono IX (HB IX).

Sampai di daerah Imogiri kita disambut pemandangan bukit-bukit. Ya, daerah Imogiri memang banyak bukit. Saat itu kami memutuskan untuk singgah ke komplek makam raja dulu sebelum ke ‘The Lost World’, karena kata Budi letaknya tidak jauh-jauh juga dari situ.

Ini pertama kalinya saya mengunjungi makam raja Imogiri ini. Dari dulu cuma sering dengar cerita-cerita tentang makam raja Imogiri ini dari saudara, teman, baca di koran/ buku/ brosur. Yang saya sering lihat di foto-foto makam raja ini, ada tangga yang panjang dan tinggi mengarah ke puncak bukit.

Dan benar saja, ketika memasuki komplek makam raja Imogiri ini, saya menjumpai tangga yang tampak jauh dan tinggi bercat putih yang sudah mengelupas di sana-sini. Jadi lebih memberi kesan tua, sakral, dan tidak sembarangan. Sebelum mulai menapaki tangga, saya lihat ada dua abdi dalem Kraton Yogyakarta yang ditugaskan di makam raja Imogiri ini. Mereka ada di dekat kotak kayu semacam tempat untuk memasukkan uang sukarela bagi pengunjung. Ya buat saya sih wajar-wajar saja hal itu, dan tidak saya pandang sebagai pungutan liar atau sejenisnya. Anggap saja menyisihkan uang untuk kebaikan orang lain juga. Bukankah dalam rezeki yang kita dapatkan juga terdapat hak untuk bermanfaat bagi orang lain? 🙂

Mulai menapaki tangga menuju puncak bukit makam raja. Makam para raja terletak di puncak bukit. Menurut yang pernah saya baca-baca, dipilihnya puncak bukit sebagai makam raja bukan sembarangan, karena melambangkan kesucian dan penghormatan yang tinggi terhadap para leluhur atau orang-orang yang bermartabat tinggi. Anak tangga menuju makam raja ini kecil-kecil dan jarak yang ditempuh cukup tinggi dan jauh, jadi siap-siap tenaga saja untuk menyelesaikan rangkaian anak tangga ini.

Selama menapaki anak tangga, suasana di sini begitu tenang. Kecuali mendengar suara pengunjung lainnya, saya mendengar hembusan angin, suara gesekan pohon-pohon yang tumbuh cukup lebat di bukit raja ini, suara burung-burung terbang dan hinggap. Suasana teduh pepohonan, rasanya begitu dekat dengan alam. Asli, kagum saya dengan tempat yang menenangkan ini, pantas bagi peristirahatan terakhir orang-orang terhormat.

Setelah cukup ngos-ngosan karena menapaki ratusan anak tangga, sampailah saya dan kawan ke depan gerbang makam raja. Tetapi saya sempat menoleh ke belakang dan… Wuah, pemandangannya… Kendati sebagian pandangan terhalang lebatnya pohon-pohon besar dan tampak tua, memandang dari atas bukit makam raja ini saya dapat melihat bukit-bukit lain di sekitaran Imogiri. Hijau, dan beberapa tampak gersang kepanasan atau karena batuan kering yang lebih tampak. Tapiii…. Melihat anak tangga yang sudah saya lalui tadi, gimana turunnya iniii…? Naik ke puncak bukit aja rasanya kayak gini, gimana nanti turunnya…? Ah, yo wis lah. Yang penting sampai di atas dulu sambil istirahat.

Memasuki area komplek makam raja, saya disambut kolam air atau apa namanya saya juga belum tahu pasti. Yang jelas ada kolam air di kiri dan kanan tangga. Setelah itu tampak gapura tua dan rangkaian pagar tua dari batu bata. Saya jadi ingat waktu tinggal di Bali pertama kali setahun sebelumnya, banyak bangunan yang mirip-mirip dengan bentuk gapura dan pagar tua ini.

Saya jadi terpikir, pantaslah bila demikian ini bentuk bangunannya. Sebelum Kerajaan Mataram kuno memasuki era agama Islam, agama di era sebelumnya adalah Hindu-Budha. Jadi sedikit-banyak tetap masih ada pengaruh budaya sebelumnya, termasuk dari penampakan bentuk bangunan.

Gerbang yang diapit gapura masuk itu menurut saya cukup kecil, tapi nampak sakral. Setelah memasuki gerbang depan, saya menjumpai pelataran kecil yang di kanan kirinya terdapat bangunan semacam tempat berjaga para abdi dalem. Yang perlu diketahui di makam raja Imogiri ini terbagi dua sisi, timur dan barat. Di sisi timur adalah makam raja Karesidenan Surakarta dan sisi barat adalah Kesultanan Yogyakarta.

Nah, bersama saya rupanya ada juga kunjungan serombongan kecil anak-anak SD bersama pembimbingnya. Dari cerita abdi dalem kepada anak-anak pengunjung itu saya jadi tahu lebih banyak tentang makam raja Imogiri ini. Termasuk komplek makam raja yang juga dijaga abdi dalem dari dua wilayah tersebut (demikian kalau saya tidak salah dengar, CMIIW).

Di dalam pelataran tersebut saya dapat melihat ada satu lagi gerbang dengan pintu tertutup, mungkin itu pintu masuk utama ke makam para raja. Di tepi pintu tertulis syarat-syarat memasukinya. Di depan gerbang utama itu terdapat 4 kendi-kendi besar terbuat dari tanah liat dan setiap kendi memiliki nama sendiri. Menurut cerita abdi dalem, setiap tanggal 1 Syuro kendi-kendi ini dicuci dan air bekas cuciannya diperebutkan masyarakat yang mempercayai adanya berkah di balik air cucian tersebut.

Setelah saya dan kawan berkeliling di sekitar komplek makam raja, kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke ‘The Lost World’ yang dimaksud Budi itu.

Ya, dapat pembaca bayangkan sendiri seperti yang sudah saya ceritakan di atas. Turunnya dari bukit makam raja itu kayak gimana… Tapi semua lelah itu rasanya terkurangi setiap merasakan kedekatan dengan alam di sekitar makam raja ini. Sesampainya kembali di depan tangga Imogiri (bawah), saya dan kawan sempat merasakan minuman yang namanya Wedhang Uwuh (uwuh=sampah – Jawa). Budi yang katanya haus mengajak kami untuk minum dulu. Awalnya juga saya belum tahu maksudnya ‘uwuh’ itu bagaimana, tapi setelah minuman wedhang uwuh itu sampai di tangan dan saya perhatikan, ya isinya memang sekilas tampak seperti sampah tumbuh-tumbuhan yang dikumpulkan lalu dijadikan minuman. Saya lihat ada daun kering, batang kering, kayu manis, dan kalu tidak salah ada juga semacam kayu bekas serutan ketika membangun rumah – tapi belum pasti tahu saya apa itu sebenarnya :D.

Awalnya agak ragu juga saya mau meminumnya, tapi setelah saya seruput rasanya kok anget di badan? Selain karena ‘wedhang’ itu berarti minuman yang disajikan dengan air panas/hangat, uwuh yang dimaksud itu juga mengandung khasiat. Ya tidak jauh-jauh semacam Wedhang Jahe atau Wedhang Secang. Wedhang Uwuh ini warnanya merah, bukan merah darah atau pewarna buatan, tapi memang merah hasil dari peramuan uwuh-uwuh yang dikumpulkan itu dan diseduh dengan air panas. Bila pembaca berminat, ada juga di sana dijual ramuan Wedhang Uwuh yang sudah dikemas plastik dan siap diseduh.

Selepas dari kompleks makam raja yang amazing itu, kami melanjutkan perjalanan ke ‘The Lost World’. Saya perhatikan arah jalannya karena Budi yang jadi guide, suapaya kalau memang tempat itu bagus saya bisa ke sana sendirian sewaktu-waktu, hehe… Ternyata memang arah jalannya tidak jauh dari makam raja. Setelah melewati jalan beraspal yang berkelok dan naik turun, akhirnya saya melihat tanda-tanda yang mengarah maksudnya Budi itu. Tidak jauh di sebelah kanan jalan saya lihat ada sungai agak lebar yang airnya berwarna antara bening dan hijau tua. Semakin mengikuti jalan, hawa terasa semakin sejuk dengan pemandangan bukit-bukit. “Woh, wangun ki, Bud. Nang kene po nggone? (Wah, keren, Bud. Di sini tempatnya?)”, saya coba menebak. “Durung, sik delok wae mengko. (Belum, ntar liat aja nanti.)”, jawab Budi.

Dan kami sampai di tempat yang cukup sepi dengan hamparan sawah yang menguning menjelang panen dengan latar belakang barisan bukit yang bagus sekali. Di sisi kanan ada sungai lebar terusan dari sungai yang lihat tadi. Amazing! Keren ini tempat!

“Welcome to the lost world :D”, kata Budi sumringah. Kami akhirnya memutuskan berhenti di jalan beraspal tepi sawah, sepeda motor kami tepikan. Dalam hati saya terkagum-kagum memandangi kecantikan alam di sini. Rasanya memang ini seperti tempat tersembunyi yang menyimpan keindahan. Bayangkan tempat seindah ini dengan keadaan sepi, jauh dari kehirukpikukan kegiatan manusia. Bukit yang mengelilingi seperti tembok benteng, di dalam benteng itu mengalir sungai yang jernih dan sebagian berwarna hijau tua, mungkin karena dalam. Di tengahnya ada taman pelataran padi keemasan. Rumah-rumah penduduk tidak banyak. Bener juga ni Budi bilang tempat ini ‘The Lost World’, haha…

Sawah yang keemasan menggoda kami untuk menyusurinya. Kami lalu menyeberang sawah dan naik ke dinding bukit. Rupanya dinding bukit ini juga ditanami pohon ketela oleh warga atau petani setempat. Di dinding bukit ini kami leyeh-leyeh di balai-balai petani. Asli, enak banget suasana di sini. Semilir angin, di depan ada sawah kuning, aliran sungai tenang, bukit hijau menjulang, rasanya pengen lama-lama di sini 🙂

Budi lalu mengajak lanjut jalan lagi ke sekitar sini. Katanya ke jembatan gantung. Jembatan gantung? Apalagi? Pikirku mungkin jembatan kecil dengan konstruksi tali baja. Dan ternyata benar, tidak jauh dari sawah kuning tadi lokasinya. Jembatan bercat kuning dengan konstruksi tali baja melintang di atas sungai. Kami lalu menyempatkan turun ke tepi sungai besar ini. Budi bilang waktu pertama kali ke tempat ini dengan teman-teman kampusnya, air sungai sangat bening. Beda dengan saat kami kunjungi yang berwarna hijau agak gelap.

Beberapa waktu kemudian saya tahu jembatan kuning ini pernah dipakai syuting film dengan pemain Dian Sastro dan Nicholas Saputra ketika saya lihat filmnya di TV, cuma saya lupa judul filmnya apa. Dan belakangan saya lihat ‘The Lost World’ dan jembatan kuning ini ada di iklan ormas Nasional Demokrat yang ditayangkan Metro TV :D.

Advertisements

Bagaimana tanggapanmu?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s