Selamat Pagi, Selat Bali…

(Jogja-Bali, 2010)

Ini salah satu pemandangan yang berkesan bagi saya sampai saat ini. Pemandangan tak biasa, kesempatan yang langka, setidaknya buat saya.
Sore itu untuk kesekian kalinya saya meninggalkan Kota Jogja tercinta untuk berangkat bertugas kerja ke luar kota, luar pulau malah, Bali. Berangkat dengan bus antar daerah yang bermarkas di daerah Janti. Bus yang dari Jogja berangkat ke Bali tiap sore sekitar jam tiga. Dan seperti biasa kala itu setiap meninggalkan Jogja selalu ada yang mengganjal buat saya. Mungkin itu lebih karena saya menyimpan impian yang belum terwujud di kota ini.

Bus berangkat meninggalkan markas, mendaki Janti Fly Over dan berbelok. Seperti ada bahasa β€œselamat tinggal, semoga segera ketemu lagi…” pada pemandangan Jogja yang bisa saya lihat sejauh mata memandang dari atas Janti Fly Over.

Semakin jauh dan semakin jauh bus melaju. Hari juga semakin malam. Hal yang tak biasa mulai terasa. Memasuki sebagian awal daerah Jawa Timur bus berhenti, berjalan merambat. Ternyata ada perbaikan jalan. Dari kaca jendela di sebelah kiri saya dapat melihat para pekerja jalanan mengatur kelancaran lalu lintas, sistem buka tutup jalanan. Entah berlangsung berapa lama pastinya sampai akhirnya saya tertidur.

Walaupun beberapa kali tertidur, tetap saya usahakan untuk tidak melewatkan pemandangan yang selalu saya tunggu-tunggu: PLTU Paiton di malam hari. Saya selalu terkesan dengan pemandangan malam PLTU Paiton malam hari baik berangkat maupun pulang dari Bali. Kalau perjalanan berangkat ke Bali dari Jogja biasanya bus melewati PLTU Paiton sekitar jam 22.30-an malam. Tapi kali ini beda, beberapa kali mendapati kondisi jalanan yang mengharuskan bus melambatkan lajunya mengubah ritme pemandangan perjalanan. Sampai jam 12-an malam saya belum merasakan tanda-tanda perjalanan akan melewati PLTU Paiton. Entah berapa lama pastinya menunggu, saya ketiduran lagi beberapa kali. Merem… Melek… Merem… Melek… πŸ˜‰

Hingga akhirnya suatu goncangan bus membuat saya terbangun. Ketika saya membuka mata, tau-tau sudah banyak air dengan langit yang mulai membiru cerah. Ha, udah di tepi laut? Udah di pelabuhan?? Setelah nyawa mulai banyak terkumpul saya menyadari ternyata bus sudah sampai si Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi. Bahkan sudah bersiap untuk masuk kapal ferri. Ah… Berarti saya melewatkan PLTU Paiton…

Segera saya sholat subuh di kursi penumpang dengan bertayammum. Tak terasa bus sudah memasuki perut kapal ferri. Tumben-tumben juga kapal ferri tampak sepi, tidak banyak kendaraan yang masuk. Mungkin karena masih cukup pagi, belum begitu ramai. Bus parkir di kapal dan saya turun dari bus. Enak juga kapalnya sepi gini, rasanya laju kapal lebih cepat… πŸ™‚

Sedikit demi sedikit langit tampak makin terang, matahari terbit. Kembali saya tengok Pulau Jawa yang saya tinggalkan, saya masih dapat melihat kubah besar berwarna hijau dari masjid di seberang pelabuhan Banyuwangi. Dan di seberang laut sana samar-samar tampak pulau Bali yang tampak misterius dengan kabut pagi.

Inilah puncaknya ketidakbiasaan dalam perjalanan ke Bali kali ini. Penyeberangan laut di pagi hari. Biasanya sih ketika perjalanan dari Jogja lancar, sampai di pelabuhan Banyuwangi sekitar jam 1-2 dini hari. Dan penyeberangan nggak lebih dari satu jam, sekitar 45 menit. Jadinya dapat sunrise di perjalanan sekitar, yah… daerah yang masih banyak sawahnya gitu lah… daerah dekat-dekat Jembrana. Daerah yang penampang sawah-sawahnya amazing di tepi pantai πŸ™‚
Saya justru bersyukur merasakan perjalanan kali ini. Nggak dapat PLTU Paiton, dapat pemandangan sunrise di selat Bali yang… ah, lebih bagus dari yang diceritakan, lebih menakjubkan dari tampak di foto πŸ˜‰ Kapan lagi dapat sunrise di perjalanan ke Bali? Ya kecuali kalau kita naik kendaraan pribadi mungkin bisa sewaktu-waktu, lha ini saya dengan kendaraan umum…

This slideshow requires JavaScript.

Sementara di seberang sana pulau Bali tampak misterius dengan bukit-bukit yang masih terselimuti kabut pagi. Dan gapura besar di Pelabuhan Gilimanuk tampak mulai jelas terlihat. Saya masih tersenyum-senyum merasakan sunrise di laut ini. Cantik sekali pantulan cahaya matahari pagi yang menimpa selat Bali dan membelai wajah saya. Mungkin seperti ini kilauan kristal yang ditimpa cahaya..?

Rasanya untuk kesekian kalinya saya diberikan Tuhan pemandangan menakjubkan tak terduga. Rasanya kok Tuhan mau meyakinkan bahwa kekuasaanNya dapat mewujudkan apapun, termasuk memberikan perwujudan impian saya dan pintu-pintu rezeki yang tak terduga arahnya. Saya lebih tenang meninggalkan Jogja, saya lebih tenang menyikapi apapun yang akan terjadi di tempat yang jauh sana… πŸ™‚

Advertisements

Bagaimana tanggapanmu?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s