Menyusuri Eloknya Taman di Ujung Timur Bali

Dimuat di Jawa Pos – Radar Jogja (Minggu, 13 Nov 2011) dengan perubahan judul

Perjalanan ini tidak terencana pada awalnya. Tahun lalu saya ditugaskan bekerja di Amlapura, sebuah kota kecil di timur Pulau Bali. Suatu siang seorang teman kerja di sana bercerita bahwa keluarganya sedang melangsungkan upacara memotong gigi bagi adiknya dan salah satu rangkaian upacaranya dilakukan di tepi laut alias pantai. Di agama Hindu, upacara memotong gigi ini bagi anak yang beranjak dewasa. Kebetulan pantai tersebut tidak jauh dari tempat saya bekerja, hingga teman saya itu akhirnya menyebut suatu nama tempat: Taman Ujung.

Saya yang penasaran dengan Taman Ujung itu sempat browsing infonya di Internet. Info yang saya dapat menunjukkan keunikan taman tersebut. Esoknya, bermodalkan hafalan saya tentang daerah sekitar Amlapura dan print out bergambar arah dan letak Taman Ujung yang saya dapatkan dari Google Earth, saya berangkat sendirian ke sana.

Rupanya saya sempat kurang teliti memperhatikan arah jalanan yang saya lewati hingga akhirnya harus memotong jalur dengan melewati jalan kecil yang masih berbatu, mengguncang-guncang motor matic yang saya kendarai. Beruntungnya saya kesasar hingga harus melewati jalan kecil ini, rupanya saya melewati perkampungan yang pemandangannya Bali banget. Bau dupa rarapan (sesajian kecil) sore di depan rumah-rumah warga semerbak di sana-sini.

Tak terasa perjalanan saya hingga pada suatu belokan ke kanan yang menurun, terbentanglah pemandangan yang eloknya bukan main. Kompleks bangunan menakjubkan dengan bentangan pantai di seberangnya. Taman Ujung.

Sambil mencari pintu masuk dan parkiran motor, saya masih takjub dengan apa yang saya lihat. Lebih bagus aslinya daripada foto-fotonya yang saya lihat di Internet. Ini saja baru dari luarnya.

Setelah menemukan parkiran, serang penjaga pos di parkiran dengan ramah meminta saya membayar Rp 4.000,- sebagai retribusi Taman Ujung dan parkir. Di dekat pintu masuk tadi tertulis nama lengkap tempat ini: Taman Soekasada Ujung.

Deg! Begitu menginjakkan kaki di jembatan kecil penghubung parkiran dan area dalam taman, seketika di benak saya muncul satu nama tempat kuno yang begitu familiar di Jogja: Tamansari. Ya, melihat kolam air yang besar dengan bangunan-bangunan di atasnya mengingatkan saya pada sejarah kompleks pesanggrahan (peristirahatan raja dan keluarganya) yang dulunya berupa kolam air dengan bangunan besar Pulo Cemeti di tengahnya. Taman Ujung juga pesanggrahan. Tepatnya pesanggrahan Raja Kerajaan Karangasem.

Begitu masuk kita akan menjumpai dua kolam air besar berbentuk segi empat. Di kolam pertama terdapat bangunan seperti rumah yang di dalamnya terdapat ruang-ruang seperti kamar tidur lengkap dengan meja dan tempat tidurnya serta ruang tamu. Di dindingnya tergantung foto-foto keluarga kerajaan Karangasem dan catatan-catatan sejarah. Menuju ke bangunan ini dari tepi kolam melewati jembatan dengan ukiran-ukiran detail yang sungguh indah. Di kolam ini juga terdapat patung-patung kecil dan pot bunga serta teratai yang tumbuh sempurna.

Kolam kedua sedikit lebih lebar ukurannya, di tengahnya terdapat bangunan semacam balai yang berukuran besar. Untuk menuju bangunan ini juga melewati jembatan kecil penuh dengan ukiran-ukiran cantik. Di pelataran selain kolam adalah dataran rumput yang rapi dibelah jalur untuk berjalan kaki, serta patung-patung.

Di tepi kolam sebelah barat terdapat bangunan semacam gardu pandang yang letaknya agak tinggi dan berundak-undak. Menurut catatan yang saya baca bangunan ini disebut Bale Bengong. Namun saya tidak sempat naik ke Bale Bengong ini.

Kedua kolam ini dipisahkan oleh jalur untuk berjalan kaki. Di sebelah barat kompleks Taman Ujung ini terdapat bukit dengan undak-undakan tangga yang tinggi mengarah ke puncak bukit. Saya lalu menaiki tangga-tangga tersebut dan ketika sampai di puncak melihat bangunan berbentuk seperti reruntuhan istana dikelilingi pilar-pilar kecil. Melihat bentuk bangunan ini saya teringat dengan serial kartun Saint-Seiya jaman saya kecil dulu. Di kartun itu sering saya lihat tokoh-tokohnya berlari menaiki tangga yang tinggi dan sampai di puncaknya memasuki bangunan istana berpilar-pilar besar. Dari catatan tentang Taman Ujung yang saya baca, tempat ini disebut Balai Kapal. Dari sini dulu Raja Karangasem melihat kapal yang datang di lautan lepas Selat Lombok. Memang dari Balai Kapal ini kita dapat melihat bentangan laut di timur Bali, juga dapat melihat dengan jelas betapa eloknya alam di sekitar kompleks Taman Soekasada Ujung ini.

Taman Ujung berkontur naik turun karena berada diantara bukit-bukit. Di selatannya terdapat laut lepas dan lokasi ini berlatar belakang bukit yang hijau dengan kebun dan sawah terasering di sekitarnya. Cantik, benar-benar cantik alam di sini.

Saya berusaha menyusuri setiap sudut Taman Ujung. Di halaman belakang atau daerah utara kompleks saya tersenyum menjumpai kandang rusa. Ya, rupanya memang ada rusa-rusa yang dipelihara di taman ini. Saya dapat melihat dari dekat rusa-rusa yang sedang makan dan tampaknya jinak-jinak. Dari balik pagar iseng saja saya menyentuh tanduk rusa yang masih muda.

This slideshow requires JavaScript.

Dari kandang rusa terdapat jalur pejalan kaki yang di sampingnya terdapat bukit-bukit yang lebat menghijau. Ini semakin meyakinkan saya bahwa taman ini dibangun dengan konsep yang menyatu dengan alam sekitar. Di dinding tersebut saya dapat melihat dua patung besar yang tertutup tumbuhan liar. Salah satunya saya lihat berbentuk kepala kerbau atau kepala banteng. Saya menduga bahwa dari kedua patung ini dulunya memancurkan air. Paduan yang sangat indah pastinya, namun sayangnya dua patung tersebut tampak menyeramkan karena tidak terawat dan dikelilingi tumbuhan liar.

Berjalan semakin ke belakang saya kembali menjumpai balai yang sangat panjang yang terbangun dari kayu. Saya menjumpai beberapa kolam kecil dengan air memancur dari patung. Namun sayangnya sekali lagi, di sekitar sini masih banyak tumbuhan liar. Diam-diam saya khawatir kalau-kalau sedang asyik-asyiknya berjalan tiba-tiba disapa ular besar atau ular liar berbisa.

Menurut catatan sejarahnya, Taman Ujung ini didesain oleh Raja Karangasem sendiri yang mulai dibangun pada 1919 dan digunakan mulai tahun 1921. Namun letusan Gunung Agung dan gempa pada 1979 silam membuat kompleks Taman Ujung mengalami kerusakan.

Overall, Taman Ujung adalah destinasi yang sangat saya rekomendasikan untuk dikunjungi bila Anda refreshing ke Bali. Bagi anda yang beragama muslim jangan khawatir untuk menemukan tempat shalat sewaktu-waktu, karena di luar pagar kompleks TSU ada masjid kampung. Ya, di Karangasem anda dapat mendengar suara adzan bersahutan dengan jelas dan masjid di mana-mana.

Cuaca yang mendung dan hujan yang turun sebentar mewarnai pengalaman saya di Taman Ujung ini. Di Taman Ujung saya begitu merasakan kesempurnaan Tuhan menciptakan keindahan. Begitu kompleksnya Tuhan menciptakan peradaban manusia yang melahirkan produk budaya menakjubkan seperti Taman Soekasada Ujung dan sekitarnya. Luar biasa. Pulang dari Taman Ujung dan melewati jalan yang sesuai dengan arah peta yang saya bawa, saya mendapati pemandangan alam yang begitu indahnya dan sejuk.

TSU terletak di Desa Tumbu, Kabupaten Karangasem, Bali. Kurang lebih 5 KM dari pusat Kota Amlapura. Dari Denpasar kira-kira 2 jam perjalanan darat ke arah timur Bali. Dalam perjalanan ke Karangasem pun Anda akan dibuat takjub dengan pemandangan-pemandangan elok. Belakangan saya baru tahu kalau TSU menjadi tempat syuting video klip lagu “Semusim” milik Alm. Chrisye.

Advertisements

Bagaimana tanggapanmu?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s