Takluknya Takut Ketinggian di Puncak Suroloyo dan Air Terjun Kering

Sedikit lebih tinggi dari puncak Merapi, jauh lebih tinggi dari bangunan yang membuatku merinding waktu di Denpasar (Tugu Renon). Amazing! Mungkin itu kata yang tepat ketika aku sampai di Puncak Suroloyo, Kulonprogo, DIY. Hamparan Pulau Jawa luas terpampang 360 derajat sejauh mata memandang.

Suroloyo...

Hari Minggu kemarin aku dan seorang kawan, Budi, mengunjungi salah satu titik tertinggi di Jogja, Puncak Suroloyo. Sejujurnya aku belum tahu pasti mana-mana titik tinggi di Jogja, yang aku tahu baru Gunung Api Purba Nglanggeran, Gunung Merapi dan Puncak Suroloyo ini, hehehe…

Ke Puncak Suroloyo ini awalnya tidak terencana, karena sebelumnya dari rumah berangkat dengan tujuan utama Air Terjun (Curug) Samigaluh yang terletak tidak jauh dari Puncak Suroloyo ini. Karena sebelumnya ketik Budi dan seorang kawan yang lain pergi ke Puncak Suroloyo, mereka lihat air terjun di sela bukit menghijau ketika perjalanan pulang.

Sejuk, tapi nggak terjun airnya...

Begitu sampai di Curug Samigaluh, ternyata kami mendapati air terjun sedang kering. Baru tahu nih kalau ternyata air terjun bisa kering juga… Kecurigaan Budi sebelum sampai di lokasi curug terbukti, air terjun yang kemarin-kemarinnya tampak dari kejauhan saat itu tidak tampak di sela perbukitan hijau. Dan aku perhatikan di sekitar situ di sisi bukit juga banyak titik-titik yang tampaknya dilalui air terjun kecil tapi sedang kering. Menurut warga sekitar yang kutemui, katanya memang akhir-akhir ini sedang tidak ada hujan. Ya, memang benar. Akhir-akhir ini Jogja jarang disiram hujan.

Air keruh karena nggak ada pergantian air dari atas...

Aku terangkan sedikit bahwa di sekitar Puncak Suroloyo topologi perbukitannya sebagian memiliki batuan yang menonjol di puncaknya. Jadi jelasnya ada beberapa titik β€˜nongol’ bila dilihat dari kejauhan. Nah, tempat yang aku pijak kemarin entah benar-benar itu yang namanya Puncak Suroloyo atau bukan, karena di dekatnya ada salah satu puncak yang memang benar-benar dikelola sebagai tujuan wisata dengan membayar retribusi dimana di situ terdapat gardu pandang dan tangga menuju puncak. Dan kemarin aku tidak membayar retribusi sama sekali, karena memang tidak ada fasilitas wisatanya. Jadi, kita sepakati sebut saja: Puncak Suroloyo. πŸ˜€

Puncak Suroloyo dengan gardu pandang di seberang...

Setelah sampai di bawah batuan yang β€˜nongol’, motor kami parkir. Dan drama dimulai… Budi yang sebelumnya sudah pernah mengunjungi puncak ini tampak santai saja menapaki jalan setapak yang melingkari puncak bukit. Dan aku, yang dari awal takut ketinggian, takutnya bukan main ketika menapaki jalan setapak itu. Lha gimana nggak takut kalau tepat di samping jalan setapak yang ada pemandangan lepas tanah Jawa gitu?! Ditambah tidak adanya tempat untuk berpeganan yang aman selain menggenggam rumput atau tanaman perdu terdekat.

Jalan setapak macam inilah yang bikin merinding kalau sambil lihat ke bawah...

Aku sempat hampir menyerah tidak ikut Budi naik ke atas, tapi Budi bilang agar aku tetap nyantai, jangan lihat ke pemandangan bawah. Akhirnya aku coba untuk tetap terus naik sambil berpengangan erat-erat rumput dan perdu (maaf ya rumput-rumput, sakit ya aku tarik-tarik…?). Mataku yang memandang jalan setapak yang kupijak dan tebing di depan mukaku belum cukup mengaburkan rasa merindingku karena 20% sisi kanan pandangan mata aku masih dapat melihat dengan jelas hamparan tanah Jawa dari ketinggian.

Deg! Seketika pandanganku tentang kematian tempo hari kok rasanya sedang diuji. Aku ini merinding takut mati atau apa ya? Nah, berbekal sentilan halus itu aku coba untuk tetap naik di tengah-tengah gemetar kaki. Dan… Akhirnya sampai juga di atas! πŸ˜€

Merapi berselimut awan...
Bibir puncak Merapi yang pecah-pecah...

Amazing! Di titik puncak yang tidak lebih besar dari lapangan badminton ini yang pertama kali jadi perhatianku adalah puncak Gunung Merapi yang pecah-pecah. Aku jadi sadar betul betapa hebatnya erupsi Merapi yang terakhir 2010 lalu. Puncak Merapi pecah-pecah seperti dapat tembakan hebat dari dalamnya. Di awal tadi aku sebut lebih tinggi dari Puncak Merapi karena dari sini aku bisa lihat sedikit sisi dalam Puncak Merapi. Dan panorama lain adalah hamparan Jogja yang datarannya merendah, daerah Kulonprogo dan Jawa Tengah yang berbukit-bukit, Gunung Merbabu di sebelah Merapi, dan gunung-gunung lainnya yang tampak tertutup awan. Budi yang tempo hari sempat ke sini dalam cuaca cerah sempat menghitung ada 7 gunung yang tampak dari Puncak Suroloyo ini.

(masih) Merapi...

Lihat foto di bawah ini. Bila dicermati, ada garis hitam di bagian tengah foto yang melintang dari sebelah kiri dan berhenti di tengah. Tampaknya itu garis perbukitan tepi pantai selatan yang berhenti di Parangtritis.

Garis pantai selatan setelah karang dari sebelah kiri...

Senyap, dingin, nyaman juga sebenarnya di sini. Rasa takut ketinggian tampaknya berhasil kutaklukkan sampai dengan saat ini πŸ˜‰ Hanya saja suara motor trek-trekan anak-anak desa di jalanan bawah bukit membuat sedikit risih. Di sana-sini aku dengar jelas suara hewan ternak kambing, lenguhan sapi, tapi belum dengar suara monyet hutan yang bergelantungan.

Mungkin lain kali aku ke sini lagi, enak sih tempatnya. πŸ˜€

Kalau kamu sekalian pembaca mau datang ke tempat ini, dari Jogja langsung saja lewat Jalan Godean sampai jauh, dan coba tanya-tanya ke orang sekitar arah ke Puncak Suroloyo. Karena aku sendiri tahu jalannya tapi kurang hapal nama-nama daerah yang kulewati, hehe… πŸ˜€

Dan ini yang penting, karena jalan menuju Puncak Suroloyo cukup curam kemiringannya, berkelok dan aspalnya rusak parah, pastikan kendaraan dalam keadaan SANGAT BAIK. Terutama gas, rem dan lampu utama. Dan pastikan pulang dari puncak tidak lebih dari jam 5 sore, karena tidak ada penerangan jalan yang memadai di tengah perbukitan dan hutan yang dilalui untuk melewati jalanan serusak parah itu.

Tertarik ke Suroloyo? πŸ˜‰

get your free will πŸ™‚
Advertisements

5 thoughts on “Takluknya Takut Ketinggian di Puncak Suroloyo dan Air Terjun Kering

  1. Naik ke puncak Suroloyo, kayaknya curam banget ya Mas..Tapi sesampai diatas pasti segala lelah terbayar, ya ampun cantiknya begitu..Terutama foto yg pertama, kesannya cantik mistis gitu..:)

    1. lumayan curam & jalan setapaknya kecil πŸ™‚
      yang jelas sampe di atas kaki masih agak gemetar, takut jatuh juga soalnya πŸ˜€

Bagaimana tanggapanmu?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s