Menjejak Nglanggeran (#1): Wanginya Jalur Pendakian dan Pelataran di Atas Kabut

Istilah “Gunung Api Purba” rasanya masih belum familiar bagi kebanyakan orang, khususnya yang tidak mempelajari ilmu geografi, sejarah, kegunungapian, dsb. Begitu juga aku dan dua teman gilaku yang akhirnya penasaran dengan Gunung Api Purba Nglanggeran yang terletak di Kabupaten Gunungkidul, DIY.

Perjalanan kami ke Nglanggeran ini bisa dibilang agak dipaksakan. Karena janjian ke sana yang sudah dari beberapa minggu sebelumnya hampir batal gara-gara mendadak hujan turun. Aku yang dijemput di kampusku mau tidak mau ya akhirnya ikutan. Mampir warung makan dulu karena belum makan siang selain berteduh menunggu hujan reda.

 

Rute Menuju Nglanggeran

Menginjak waktu Ashar kami bertiga melaju ke Nglanggeran setelah hujan reda. Dari Condongcatur mengambil rute yang menghindari Jalan Wonosari, yaitu lewat jalan raya Jogja-Solo lalu di depan Candi Prambanan belok ke arah pasar Prambanan yang tembus ke pertigaan Piyungan, Bantul.

Di perjalanan kami sempat bebrapa kali berhenti karena hujan yang turun kadang lebat, kadang reda. Dan mendekati pertigaan Piyungan aku sempat menginisiasi untuk batal ke Nglanggeran karena cuaca yang tampaknya kurang bersahabat ditambah hari yang makin sore (dan pikiran mengganjal karena belum shalat Ashar juga).

Keinginanku untuk batal ke Nglanggeran menguat tatkala berhenti di dekat pertigaan Piyungan, kami menoleh ke belakang dan melihat perbukitan Gunungkidul yang diselimuti kabut tebal. Tapi aku dipaksa dua temanku buat tetap ikutan. 2 banding 1, yo wis, jalan terus…

Naik di tanjakan Jogja-Wonosari jalanan basah, langit mendung dan sesekali kabut melayang di atas jalanan. Begitu menjelang tanjakan terakhir Jalan Wonosari, hujan turun deras. Padahal sebenarnya Nglanggeran tidak begitu jauh lagi. Di ujung tanjakan, depan kantor polisi Pathuk, kami berteduh di warung kelontong yang di sebelahnya ada salon.

 

Di Dekat Nglanggeran

Sambil menunggu hujan reda, satu dari kami bertanya berapa jauh lagi Nglanggeran pada ibu-ibu di dalam salon (tepatnya sih tante-tante, makanya kami sempat cekikikan membahas tante dalam salon itu:D).

Begitu hujan reda, kami tancap gas ke Nglanggeran menembus udara dingin karena hujan. Dan secara mengejutkan menemui pemandangan-pemandangan amazing paduan antara perbukitan dan cuaca mendung.

Ditambah di perjalanan menuju Nglanggeran kami menjumpai tower-tower raksasa yang gagah menjulang di atas perbukitan Gunungkidul. Beberapa tak tampak puncaknya karena terselimuti kabut. Karena tower-tower inilah manusia-manusia di Yogyakarta bisa menonton tayangan televisi.

Belum sampai di Nglanggeran saja pemandangan dan hawanya sebagus ini, makanya kami sempat berhenti untuk…. foto-foto! 😀

Dari sini juga kami bisa melihat anggun dan misteriusnya semacam bukit menjulang yang kami duga itulah Gunung Api Purba Nglanggeran. Keren…

Sudahi berfoto, langsung ke gunungnya. Tidak sulit menemukan arah Nglanggeran dari sini. Sampai di loket retribusi¸ sudah sepi sebenarnya karena sudah hampir jam 5 sore. Tidak perlu bayar parkir kata mas yang jaga karena sudah hampir malam dan tak ada pengunjung datang lagi selain kami bertiga.

 

Wanginya Jalur Pendakian

Naiklah kami melewati jalur pendakian setelah sebelumnya melihat-lihat peta dan foto di Pendopo Kalisong dekat loket. Menurut peta terdapat titik-titik di area gunung ini seperti mata air, flying fox, gua, puncak, dsb.

Di awal naik kami melihat batu besar yang seperti ditopang oleh batu kecil di bawahnya, namanya Song Gudhel. Dinamai tersebut menurut infonya tadi karena warga dulunya pernah melihat bahwa batuan yang seperti kamar ini ada anak harimau yang besarnya seukuran anak sapi (Jawa: gudhel).

Yang istimewa di pendakian ini menurutku adalah bau wangi yang tercium hampir sepanjang rute naik. Aku merasakannya seperti parfum beraroma wood yang dijual di toko-toko. Mungkin ini aroma alami wood itu, entah ini sebenarnya wangi dari bunga-bunga yang tumbuh di pegunungan ini atau dari memang dari pepohonan yang tumbuh memiliki jenis kayu yang berwangian.

Jalur licin karena basah, tanah dan batuan licin yang jadi jalur pendakian dapat dilalui salah satunya karena ada tali-tali tampar plastik di kemiringan tertentu yang sepertinya sengaja dipasang pengelola tempat ini untuk pegangan pengunjung.

Sempat pula aku takjub melihat retakan raksasa yang menimbulkan celah sempit yang hanya bisa dilewati orang satu persatu (menurutku seperti “memberikan akses” buat orang supaya bisa lewat ;)).

 

Pelataran di Atas Kabut

Begitu sampai di tempat yang kami belum melihat ada jalan lagi untuk dilewati, kami melihat semacam pelataran dengan batu-batu bertonjolan. Batu-batu bertonjolan ini menyatu dengan tubuh gunung dan tidak bisa “dipreteli” satu per satu dengan tangan kosong.

Tampaknya biasa saja pelataran yang bergelombang ini. Tapi begitu berjalan di atasnya menuju tepian, wow… Kami di atas awan! Lebih tepatnya kabut, ding. Atau mungkin awan yang terbang rendah? Hehehe… 😀

Hanya saja memang udara tampak tidak cerah, jadi tidak seluruhnya pandangan bisa lepas karena ada kabut-kabut tebal itu. Tapi ini sudah cukup untuk membayar penasaran kami tentang tempat ini, setidaknya untuk sementara waktu. Karena kami menyadari kalau pelataran ini belumlah apa-apanya Gunung Api Purba Nglanggeran ini.

Dalam waktu dekat kami harus datang ke sini lagi, menuju puncaknya.

This slideshow requires JavaScript.

Advertisements

Bagaimana tanggapanmu?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s