Menjejak Nglanggeran (#2): Puncak Gunung Api Purba

Pelataran di atas kabut yang lalu sudah menjawab rasa penasaran tentang GAP Nglanggeran. Tapi itu bukan puncaknya. Beberapa minggu kemudian aku dan teman-teman kembali ke Nglanggeran.

View dari ujng Lorong Sumpitan #1

Kalau kemarin datang bertiga, kali ini berlima. Bedanya dengan kunjungan pertama adalah hawa yang lebih kering karena panas dan wangi jalur pendakian yang hampir tidak terasa. Kesimpulanku, bau wangi pepohonan muncul ketika hawa sangat lembab (setelah hujan) dan tumbuhan terbasahi. *cmiiw 😀

Lorong Sumpitan #1

Aku masih terkesan dengan celah sempit panjang antara dua batuan besar yang dinamai Lorong Sumpitan ketika menuju pelataran pertama (yang baru-baru ini kuketahui sebutannya Tlatar Gedhe :)). Siap-siap saja tangan atau pakaian kotor terkena basahnya dinding Lorong Sumpitan. Entah ini dinding basah air dari mana datangnya, mungkin menguapnya air dari dasar Lorong Sumpitan atau mungkin malah ada rembesan air mengalir?

Berani ngotorin tangan itu baik 🙂

Berhenti sejenak di ujung atas Lorong Sumpitan dan lihat ke belakang… Hijaunya terasering, tower-tower menjulang dengan background hamparan dataran Jogja bisa menjadi pelepas sedikit ngos-ngosan setelah melawati Lorong Sumpitan.

View dari ujng Lorong Sumpitan #1

Sampai di Tlatar Gedhe kami istirahat sebentar di gardu pandang yang kondisinya tampak kurang terawat. Karena kami menuju puncak, maka kami coba bertanya pada bapak-bapak yang kebetulan sedang duduk-duduk di gardu pandang.

Oleh bapak itu kami diberi dua pilihan rute menuju puncak. Katanya sih, yang satu rutenya agak panjang dan rusak, satu lagi lebih pendek dan kondisi jalannya baik. Jadilah kami mengambil pilihan terakhir (dan ini yang rupanya bakal jadi cerita “manis” :p).

Titik dimulainya sandiwara menuju puncak…

Lorong Sumpitan (lagi)

Oke, pilihan kedua kami ambil. Dari gardu pandang kami merayapi batu besar untuk naik ke atas. Siap-siapa saja terpeleset kalau lewat sini, miring batunya curam dan tanpa pegangan yang begitu aman. Dari atas batu masih dapat melihat pemandangan keren.

Dari Gardu Pandang lewat sini.

Dan… lagi-lagi ada Lorong Sumpitan. Aku perhatikan sebentar, ajaib ini tempat… Lorong Sumpitan kali ini lebih sempit daripada yang pertama tadi. Aku coba bandingkan lebarnya jalan setapak dengan besarnya kaki. Hmm… Memang kecil ;).

Lorong Sumpitan yang nggak kalah mencengangkan, lebih sempit.

Di Ujung Lorong

Sampai di ujung lorong, sepertinya jalan buntu. Tapi ada celah kecil yang gelap diantara dua batu besar yang bisa dilewati dengan menerobosnya dari bawah. Rawan kena kepala ini, makanya harus dilewati satu-persatu orang. Aku yang sempat agak merinding karena pikirku seharusnya masih ada hewan liar semacam ular, yang bisa jadi bersembunyi di celah gelap bawah dua batu ini.

Di ujung Lorong Supmitan, lewat celah gelap…

Setelah melihat teman-teman aman melewati celahnya, baru aku melewatinya cepat-cepat. Di ujung celah, masih harus berjuang lagi. Menaiki dua batu besar untuk bisa lanjut perjalanan. Harus lincah lewat sini. Merayap tanpa sandal alias nyeker sangat dianjurkan :D.

Keluar dari celah, merayapi batu.

Dan setelah itu… Ah, nggak kalah keren dengan Tlatar Gedhe. Pemandangannya mantap! Terbayarlah galaunya lewat Lorong Sumpitan dan celah gelap rawan ular. Istirahat lagi sebentar… 😀

Pemandangan amazing dari sini 🙂

“Manisnya” Jalur Menuju Puncak

Dari titik setelah Lorong Sumpitan kedua ini lanjut melewati jalur yang dipenuhi semak. Dan di satu titik kami berhenti hingga terlintas pikiran bahwa kami dikerjai bapak-bapak di gardu pandang tadi. Mana ini yang katanya jalannya bagus tadi?? Yang ada di hadapan kami cekungan agak dalam, tanahnya basah dan tidak padat, tidak ada pohon yang bisa dijadikan pegangan, sekalinya meluncur disambut pohon berduri. Manis! (>_<)”

Gila ini jalur, pikir kami. Ada 3 pilihan buat kami. Menuruni cekungan pelan-pelan dengan resiko terperosok serta pakaian kotor karena tanah basah, merayapi tepian cekungan lalu melompat ke seberangnya dengan resiko jatuh karena tanahnya tidak kuat, dan … balik kanan–lewat jalur lain dari gardu pandang tadi.

Akhirnya pilihan kedua dipilih. Pilihan pertama terlalu berisiko, pilihan ketiga sudah terlanjur agak jauh. Apa boleh buat? Yang ada malah ketawa melihat satu sama lain kepleset dan panik menuruni cekungan. 😀

Rute “manis”

Sumber Air

Cekungan basah tadi berbuah umpatan untuk si bapak-bapak :D, kapok lewat situ lagi kalau datang lagi ke Nglanggeran menuju puncak, dan pertemuan pada destinasi alternatif Nglanggeran: sumber air. Di salah satu persimpangan kecil kami mencoba lihat arahnya dan ternyata bertemu dengan suara gemericik mata air dari balik himpitan batu besar.

Untuk sampai ke mata air ini kita harus melewati celah batu yang miring cukup curam sambil kaki menapak pada lubang-lubang yang lebarnya tanggung. Cukup beresiko kami pikir, maka itu tidak kami lanjutkan ke mata air. Pokoknya ke puncak. Sayangnya lupa kuabadikan gambar jalur menuju mata air.

Manisnya Puncak

Sampai di tepi puncak, kami harus melewati tangga untuk naik ke batu besar yang dinamai Gunung Gedhe. Waktu itu ada rombongan semacam kegiatan makrab dari salah satu kampus di selatan Jogja. Sambil istirahat sejenak kami menunggu mereka turun dari puncak. Ya karena tangganya cuma satu dan satu-satunya akses ke puncak ;).

Sedikit merayapi curamnya batu Gunung Gedhe di ujung tangga, lalu berdirilah tegak, putar pandangan 360 derajat… Lepas! Kami sampai di puncak :D.

Ini orang bikin teman2nya merinding gara-gara suka minggir-minggir :p
Nggak berani minggir-minggir… 😀

Setelah dipikir-pikir, tidak begitu lama perjalanan dari bawah menuju puncak GAP Nglanggeran ini. Cuma sekitar 1 jam. Gunung yang menurutku bisa disebut kurang tinggi :D. Buatku cocok untuk dikunjungi berkali-kali. Nggak begitu capek (kecuali gara-gara jalur “manis” tadi :D). Asik.

Ngobrol dan foto-foto di puncak. Memang asyik tempat ini. Sejujurnya aku masih cukup takut dengan ketinggian. Tapi ngakak gara-gara salah seorang teman yang matian-matian takut ketinggian, agak takut ke pinggir padahal masih di tengah. Jadilah kami kerjai sekalian.

Melihat lebatnya pepohonan di GAP Nglanggeran, menurutku seharusnya ada hewan liarnya. Mungkin kera, ular, atau lainnya (kecuali serangga yang pasti ada). Dan rasanya sih, seharusnya, satu atau dua hewan liar itu tampak di perjalanan ini. Tapi tadi aku cuma lihat serangga. Mungkin lain waktu kalau ke sini lagi aku bertemu dengan hewan liar, penghuni asli GAP Nglanggeran.

Katanya ini kawah GAP Nglanggeran…

Ya, lain waktu aku harus ke sini lagi. Sayang kalau cuma sekali dua kali ke sini. Mungin bakal ada pengalaman baru lagi di sini. Ya… Harus, ah! 🙂

This slideshow requires JavaScript.

Advertisements

Bagaimana tanggapanmu?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s