Raja yang Dicintai di Heningnya Imogiri

Memang waktu itu aku belum lahir, tapi suasana peristiwa luar biasa di Yogyakarta waktu itu pelan-pelan menyusup ke dalam hati. Peristiwa yang diperkirakan sebagai pemakaman terbesar abad ke-20 di Indonesia.

Dalam rangkaian reportase peristiwa wafatnya Sri Sultan Hamengku Buwono IX (HB IX) tahun 1988, Majalah TEMPO menggambarkan suasana mangkatnya dua sultan besar Yogyakarta. Gunung bergemuruh ketika Sultan Agung Hanyokrokusumo mangkat. Dan ketika Sultan Hamengku Buwono IX mangkat, tak ada gemuruh gunung dan tak ada gempa, namun gemuruh lain berupa ratusan ribu manusia yang berbela sungkawa. Langit diselimuti mendung dan hujan sejak jenazah HB IX dibawa dari Washington DC hingga Yogyakarta. Padahal kala itu musim kemarau tanpa hujan beberapa bulan berturut-turut.

Jujur, aku sempat merinding waktu melihat foto-foto peristiwa wafatnya Sultan HB IX bidikan TEMPO. Merinding membayangkan betapa kehilangannya rakyat Yogyakarta akan raja yang dicintai dan mencintai rakyat. Kawasan Plengkung Gading yang kini dipadati kendaraan, Sabtu, 8 Oktober 1988 dulu dipenuhi manusia dari jalanan sampai atap rumah untuk menyaksikan Sultan HB IX terakhir kalinya meski dalam kereta jenazah menuju pemakaman para raja di Imogiri.

Dan di tangga menuju makam para raja Imogiri kemarin aku masih melihat pohon-pohon besar berdiri kokoh di kanan-kiri tangga. Bersisian dengan tiang-tiang lampu kuno yang tampak tak terawat, pohon-pohon besar dan tua itu bisa jadi saksi diantarkannya peti jenazah Sultan HB IX ke dalam kompleks makam para raja. Atau setidaknya, sudah berapa raja yang pepohonan itu saksikan iringan jenazahnya?

Suasana di makam raja di Imogiri ini teduh pepohonan, seringkali senyap ketika tidak ramai pengunjung makam. Maka tak asing mendengar cecuitan burung dan suara daun kemrosak yang dilintasi kadal pohon.

Tapi kali ini makam raja Imogiri sedang ramai pengunjung. Entah ada kaitannya dengan bulan Syuro atau ada tujuan lain, nggak begitu aku pedulikan. Yang jelas buatku makam siapapun itu adalah wujud ketidakabadian manusia. Bahkan raja terhebat pun akhirnya meninggal juga, kan? Dia yang dulunya hidup, diambil saja baiknya, buruknya tinggalkan.

Dan tentang swargi HB IX tadi, beliau begitu dicintai rakyatnya dan dihormati banyak orang semasa hidupnya. Berarti ada keteladanan dari beliau yang perlu dipelajari.

Pertama kali aku ke sini 3 tahun lalu. Waktu itu aku terpukau dengan heningnya suasana di sekitar makam raja di Imogiri ini. Makam para raja yang terletak di atas bukit, dalam gugusan bukit sejuk menghijau.

Puncak bukit, makam para raja.

Hening dan kematian. Kaitan yang tepat di tempat pilihan Sultan Agung dulu sebagai kompleks makam para raja. Semoga para swargi raja tenang di alam kuburnya atas perkenan Tuhan.

This slideshow requires JavaScript.

Advertisements

Bagaimana tanggapanmu?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s