Jamu Ginggang: Berwindu Hadirkan Jamu, Tak Lekang Oleh yang Instan

Jamu Ginggang. Beberapa kali kudengar nama itu dari pamanku yang tinggal di Tangsel setiap datang ke Jogja saat lebaran. Ia mau menyempatkan jamu di sana seperti waktu mudanya dulu. Sebenarnya aku tahu tempatnya, cuma aku yang sering lupa kalau Ginggang itu nama warung jamu tradisional ternama di Jogja.

Suatu malam sehabis hujan aku datang ke Ginggang dan memesan segelas jamu beras kencur biasa. Efeknya badanku jadi terasa hangat. Akhirnya kulepas jaket yang kupakai. Enak. Aku ketagihan, haha. Jadilah kupesan lagi segelas beras kencur keras dengan tambahan madu. Malam itu yang datang ke Ginggang selain aku ada beberapa warga sekitar dan pasangan muda-mudi.

This slideshow requires JavaScript.

Berlokasi di sekitar Pura Pakualaman, jamu Ginggang tidak sulit ditemukan. Menurut liputan sejarahnya jamu Ginggang berawal dari seorang abdi dalem Kadipaten Pakualaman bernama Bilowo pada tahun 1930-an. KGPAA Paku Alam VII yang bertahta kala itu mengizinkan Bilowo untuk menjual jamu buatannya ke masyarakat luas. Sebelumnya ia membuatkan jamu untuk kerabat kadipaten saja.

Ternyata banyak orang yang suka dengan jamu buatan Bilowo. Pada tahun 1940-an jamu dijualnya di warung kecil-kecilan yang ia buka di tepi jalan. Sebelumnya Bilowo menjual jamu dengan berkeliling di sekitar Pakualaman. Kemudian seteah Bilowo wafat usaha jamu Ginggang diteruskan oleh anaknya. Lalu di tangan cucu-cucunya jamu Ginggang berkembang menjadi warung permanen dengan banyak pelanggan.

Buka dari pagi hingga jam 8 malam, ada banyak pilihan minuman jamu tradisional di Ginggang. Ada paitan, kencur, kunir asem, temulawak, sehat pria, uyup-uyup, sawan tahun, galian putri, galian singset, dan masih banyak lainnya. Dan jamu tersebut dapat kita pesan dingin atau panas, juga dengan tambahan telur dan madu.

Hingga kini telah sepuluh windu lebih jamu Ginggang melayani pelanggannya. Usia penikmat jamu tradisional yang datang pun beragam di tengah maraknya jamu instan yang mudah didapatkan di pasar swalayan. Kupikir itu menandakan kalau penikmat jamu tradisional tidak kehabisan generasi. Ataukah memang sebenarnya sudah kecenderungan manusia tidak bisa lepas dari ramuan alami seperti jamu tradisional?

Advertisements

Bagaimana tanggapanmu?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s