Kauman: Labirin Tenang Berdinding Cerita Sejarah

Hiruk pikuk nol kilometer Yogyakarta menguap ketika kumasuki wilayah kampung yang terletak di barat Alun-alun Utara Yogyakarta ini. Perkampungan ini padat, tapi rasanya teduh dan tenang. Begitulah Kampung Kauman.

Aku selalu suka melihat bangunan rumah kuno setiap melewati gang-gang di Kauman. Meski sebagian rumah-rumah di Kauman sudah dibangun dengan gaya bangunan yang lebih baru, bangunan lama tetap bediri. Tentu ini menandakan adanya kisah sejarah tersendiri di sana. Salah satu ormas Islam terbesar negeri ini, Muhammadiyah, lahir di Kauman.

This slideshow requires JavaScript.

Dalam buku Sejarah Kauman: Menguak Identitas Kampung Muhammadiyah karya (alm.) Ahmad Adaby Darban aku menemukan kisah sejarah terkait rumah bertingkat di Kauman. Disebutkan di situ bahwa pada mulanya jabatan sebagai abdi dalem Kraton Yogyakarta adalah mata pencaharian masyarakat Kauman. Para istri abdi dalem bekerja sambilan dengan membatik di rumah. Seiring waktu kerajinan batik masyarakat Kauman berkembang pesat. Sehingga kerja rangkap pun dilakukan, sebagai abdi dalem dan pengusaha batik.

Tidak sedikit kujumpai rumah bertingkat di antara deretan rumah kuno di Kauman. Dalam buku tersebut disebutkan bahwa rumah bertingkat adalah bukti berkembangnya taraf ekonomi masyarakat dari usaha Batik Hendel. Kiyai Haji Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah, adalah abdi dalem yang juga pengusaha dan pedagang batik dengan pemasaran meliputi kota-kota besar di Indonesia.

Langgar Ar Rosyad

Nama langgar Ar Rosyad tidak asing bagiku karena tidak jarang ibuku bercerita tentang penggalan masa remajanya ketika sempat singgah di Kauman. Dulu pernah pada suatu malam secara tidak sengaja aku melewati pintu gerbang kecil yang di atasnya terdapat papan bertuliskan Langgar Ar Rosyad. Belakangan penasaran lagi ingin tahu di mana letak persisnya. Akhirnya beberapa minggu lalu aku menemukannya lagi.

This slideshow requires JavaScript.

Sempat terbersit di pikiranku waktu melihat lagi Langgar Ar Rosyad kalau langgar itu instagramable. Setidaknya di sekitar jendela berkaca patri warna-warni, lalu pintunya, dan tampak dari depan pintu gerbang pilar kayu berukir dengan warna yang artistik di serambinya.

Makin terasa hidup suasananya ketika aku melewati jalan di selatan langgar mendengar lantunan ayat suci Al-qur’an. Dari jendela yang terbuka tampak seorang remaja putri berkerudung gelap sepertinya sedang melantunkan hapalan qur’annya sambil duduk di mimbar dan tanpa menghadap mushaf. “Kauman banget,” pikirku (ya, iyalah! lha, wong lagi di Kauman, kok… -__- ).

Dalam buku tersebut tersirat pula bahwa langgar Ar Rosyad merupakan salah satu kubu tersendiri di antara langgar-langgar yang berselisih paham dalam sejarah pergerakan dakwah di Kauman. Suatu periode sejarah yang kisahnya cukup menarik disimak.

Berjalan di tenangnya gang-gang kecil Kampung Kauman bagiku seperti berjalan di labirin. Labirin berdinding cerita-cerita masa silam. Cerita tentang pergerakan dakwah, hubungan manusia, kemajuan ekonomi masyarakatnya, juga desain dan arsitektur yang berkembang pada zamannya. Setenang orangtua bijak yang menyimpan banyak cerita.

Advertisements

2 thoughts on “Kauman: Labirin Tenang Berdinding Cerita Sejarah

Bagaimana tanggapanmu?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s