Between Two Gates: Kekunoan dan Tenang di Antara Dua Gerbang

Pertama kali mengetahui nama tempat ini kupikir aneh. Rasanya kurang pas bila lokasi yang terletak di Kotagede ini dinamai dengan bahasa yang bukan bahasa ibu. Tapi, satu hal yang khas terasa dari tempat ini adalah suasana tenang seperti di gang-gang Kotagede pada umumnya. Between Two Gates (antara dua gerbang) begitulah tempat ini dinamai.

Terletak di wilayah Kelurahan Purbayan, tepatnya di kampung Alun-alun, Between Two Gates hanya sepelemparan batu ke arah selatan dari Pasar Kotagede. Dari Pasar Kotagede menuju arah pintu gerbang Makam Raja Mataram, masih terus sedikit puluhan meter. Di sebelah kiri atau timur jalan akan tampak gapura berwarna putih dengan ornamen tanduk kerbau (atau lembu?). Itulah salah satu gerbang masuk Between Two Gates.

Rumah-rumah Joglo berderet sepanjang Between Two Gates. Kayaknya adem kalau tinggal di dalamnya, pikirku ketika melihat isi beberapa rumah dari pintu dan jendela yang terbuka siang itu. Kentongan berbentuk tanduk tampak menggantung di setiap rumah Joglo. Terdapat Pendopo Adat Joglo yang berdiri kokoh di pertengahan Between Two Gates. Pada sekat kayunya tergantung foto-foto kegiatan yang pernah berlangsung di tempat tersebut.

This slideshow requires JavaScript.

Aku menyukai gaya bangunan kuno yang terdapat pada pintu dan jendela rumah-rumah joglo itu. Tak sedikit juga titik-titik yang instagramable. Namun, usia bangunan tidak bisa dipungkiri jika melihat tampak depan sebagian rumah yang tampak membutuhkan perawatan lebih, seperti pengecatan ulang maupun penghalusan atau penguatan tembok yang tampak merapuh. Tapi, silakan coba ditaksir mana yang lebih dulu rapuh, kayu jati penopang bangunan atau temboknya? Maka tak jarang di sini kita jumpai plakat-plakat tertempel pada bangunan yang menginformasikan biaya pelestarian bangunan.

Menurut keterangan lokasinya, istilah Between Two Gates adalah ungkapan yang disebut oleh tim peneliti arsitektur pada tahun 1986. Istilah tersebut menjadi populer di kalangan masyarakat dan akhirnya dijadikan nama lokasi ini. Sampai sekarang aku belum mencari tahu tim peneliti asal mana yang menyebutnya, tapi kurasa cocoknya sebutan itu muncul dari sekelompok orang yang tidak berasal dari Indonesia.

Jalan kecil dalam area Between Two Gates sebenarnya merupakan area pribadi rumah-rumah berseberangan tersebut, tapi karena kebaikan pemiliknya boleh dilewati oleh umum. Belakangan sepulang dari sini aku jadi ingat—kalau tidak salah—bentuk pemukiman sejenis Between Two Gates pernah kulihat waktu jalan-jalan di Kampung Kauman. Pada beberapa titik di Kauman aku pernah lihat ada gerbang kecil, beberapa tampak seperti gapura, yang setelahnya terdapat jalanan kecil dengan rumah di kiri-kanannya dan di seberangnya tampak gerbang serupa. Luas areanya jauh lebih sempit daripada Between Two Gates.

Advertisements

Bagaimana tanggapanmu?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s